Pages

Tuesday, January 16, 2018

SEPASANG SANDAL TITIPAN

SEPASANG SANDAL TITIPAN


Sandal, benda yang tak pernah lepas dalam keseharian kita.  Setiap kita pasti memiliki sandal,  alas kaki yang hampir setiap saat kita bawa kemanapun kita melangkah.

kenapa ia dinamakan sandal? Apakah karena ia sebagai alas kaki?  Sepatu juga berfungsi mengalasi kaki bukan?
Dalam wikipedia,  sandal itu diartikan sebagai alas kaki yang sifatnya terbuka sehingga jari-jari kaki atau tumit pemakainya terlihat. Jadi sekarang kita bisa membedakan apa itu sandal dan apa itu sepatu. Sudah dulu ya Kita bahas perbedaannya,  karena kalau bahas perbedaan akan terlalu panjang gak ada habisnya.

Kembali ke sandal,  ada hal unik yang mungkin tidak banyak kita sadari tentang sandal. Bahkan telah diabadikan dalam sebuah hadits, ketika Nabi kita bersabda tentang terompah (sandal)  sahabatnya Bilal bin Rabbah yang telah terdengar suaranya di syurga.  Subhanallah,  dalam sabdanya ia menyebut "terompah"/sandal bukan sepatu yang suaranya telah terdengar di syurga menanti pemiliknya datang dan mengenakannya.

Pernahkan terfikir dalam benak kita, bisa jadi semua penghuni syura mengenakan "terompah" / sandal bukan sepatu. Apakah mungkin Nabi bersabda demikian karena saat itu para sahabata hanya memiliki sandal?  Apakah saat itu mereka belum mengenal sepatu? tentu tidak, karena nabi pun pernah bersabda tentang keringanan yang diberikan kepada seseorang yang bepergian mengenakan sepatu jika mereka sulit melepaskannya saat berwudhu maka cukuplah bagi mereka mengusap sepatu tersebut tanpa membasuh kakinya.

Kita semua tau,  jika saat ini sandal tak hanya sebatas alas kaki, tapi sudah tren menjadi fashion baik anak-anak, remaja,  bahkan dewasa dan dibuat dengan beragam bentuk dan fungsinya. Bukanlah hal yang mengherankan jika hari ini diantara kita memiliki lebih dari satu sandal,  bahkan ada beberapa koleksi sandal yang mungkin kita miliki. Pernahkah kita bayangkan,  jika didunia saja ketika kita melihat sandal-sandal yang dipajang di dalam toko begitu bagusnya,  elok dan menawan harganya dari yang murah hingga begitu mahal dan mungkin saja harganya tak sanggung dibeli oleh kita sendiri. 

Lalu bayangkan jika didunia saja benda yang bernama sandal itu sudah membuat kita ingin memiliki,  lalu seperti apa rupa "terompah / sandal yang ada di syurga saudaraku?  Mungkinkah ia terbuat dari intan permata?  Mungkinkah alasnya dari emas yang tak berkurang kadarnya?  Mungkinkah talinya terbuat dari batu safir yang begitu indah? Tak terbayangkan, jika mungkin di dunia ini ada yang dikaruniahi sandal semacam itu,  mungkin seluruh umat manusia akan berperang untuk memperebutkannya.

Supri eperti apa rupa terompah / sandal yang dikenakan Bilal bin Rabbah? hingga Nabi sabdakan ia telah mendengar terompahnya di syurga saudaraku?
Bilal bin Rabbah dahulunya hanyalah seorang hamba sahaya,  rela disiksa demi mempertahankan keimanannya,  demi kalimat "Ahad...  Ahad... Ahad... " bahkan ia tak mampu menebus dirinya sendiri hingga sahabat Abu Bakar yang melihatnya disiksa tak kuasa dan akhirnya menebus dan memerdekakannya. Apakah terbayang dalam fikiran kita seorang hamba sahaya yang tak mampu memerdekakannya dirinya sendiri memiliki terompah / sandal yang bagus?  Apakah sempat ia memikirkan untuk membeli terompah  yang elok? Tidak saudaraku...  Sekali kali tidak.

Nabi bersabda bahwa terompah Bilal bin Rabbah telah terdengar suaranya di syurga bukan karena terompah Bilal itu bagus rupanya saudaraku...  Bukan karena bahannya yang berkualitas... Bukan pula karena warnanya yang elok, tapi tentu karena terompah yang ia kenakan menjadi pengantar ia mendekatkan diri kepada Allah. Dengan terompahnya ia berjalan menuju baitullah berseru mengumandangkan adzan sebagai muadzin Rasulullah...  Dengan terompahnya ia pergi berjihad dijalan Allah untuk menegakkan agama Allah.

Berapa jumlah koleksi sandal yang kita miliki saudaraku?  Sudahkah kita jadikan ia sebagai kendaraan kita untuk mendekatkan diri kepada Allah. Sudahkah kita gunakan ia untuk melangkah menuju rumah Allah menyeru atau memenuhi seruan untuk shalat?  Sudahkah ia kita gunakan untuk melangkah menuntut ilmu?  melangkah bersedekah,  menyambung silaturahim?

Saudaraku...  Beristighfar dan mohonlah ampunan jika selama ini sandal-sandal yang kita miliki tak kita gunakan untuk mendekat kepada Allah... Mohonlah ampunan jika selama ini sandal-sandal yang kita miliki hanya kita gunakan kepada hal yang sia-sia,  tidak bermanfaat bahkan mungkin untuk melangkah ketempat-tempat penuh maksiat Saudaraku?

Maka tak ayal jika mungkin sebagian dari kita yang mampu membeli sandal yang bagus,  mahal harganya mengkoleksi berbagai jenis sandal bermerk sering Allah takdirkan hilang.  Ketika hilang kita membeli kembali lalu belum lama kemudian hilang kembali. Kita beli kembali tapi berulang kali ia hilang.  Banyak yang mengeluhkan ketika pergi kemasjid sandalnya hilang tanpa pernah berfikir berapakali jumlah ia berkunjung ke masjid untuk bersujud kepada Allah dibandingkan jumlah kehilangan sandalnya?
Bahkan nAuzdubillah sampai-sampai ada yang pindah agama hanya karena kehilangan sandal di masjid? MasyaAllah...  Berapa harga keimanannya sehingga imannya tergadaikan oleh sepasang sandal.

Pernahkah kita bermimpi terompah / sandal kita telah berada di syurga menantikan diri kita yang masih ada didunia ini? Ataukah mimpi itu tak pernah terlintas lantaran dosa dan maksiat kita yang begitu besar,  berat hingga hati kita tertutupi dan menjadi keras wahai saudaraku?
Pantas saja jika Allah takdirkan sanda-sandal kita berulang kali hilang dicuri, tertukar,  terselip...  Hingga akhirnya kita berulang kali mengeluarkan uang untuk membeli sandal baru tanpa pernah berfikir,  bahwa ini adalah sekenario Allah agar kita memiliki sandal yang akan menjadi alas kaki kita bertemu denganNya saudaraku.

Saudaraku,  cobalah sesekali engkau renungkan...  Bukankah lebih banyak sandal-sandal yang hilang adalah sandal yang elok rupanya, berkualitas lagi mahal harganya? Jarang sekali kita mendengar sandal yang buruk rupanya mungkin jelek kualitasnya hilang dimanapun tempatnya.
Mungkin sudah menjadi hal biasa saat kita mendengar sandal teman, saudara atau bahkan milik kita kita sendiri yang bagus hilang ketika  pergi ke masjid untuk beribadah?

Saudaraku...  Pernahkah kita menemukan sebuah pesan yang Allah sisipkan dalam setiap kejadian kejadian ini.  Apakah kita hanya memaknainya sebagai ujian atas kesabaran dan keikhlasan bahwa segala sesuatu yang hilang hakikatnya adalah bukan milik kita?  Bahwa semua yang kita miliki hanyalah titipan semata?  Mungkin kita hanya menganggap bahwa ini adalah cara Allah agar kita bisa membeli sandal yang lebih bagus lagi?  Mungkin saja kita justru berfikir bahwa kita mampu untuk membelinya lagi bahkan yang lebih mahal dari itu.  Naudzubillah justru yang keluar dari diri kita adalah kesombongan atas apa yang kita miliki sedang ia hanyalah titipan semata. 
Mungkin kemaksiatan diri kita yang membuat mata kita mulai rabun,  hati kita mulai keras sedang fikiran kita terus terus berangan-angan bahwa diri kita ini adalah golongan orang-orang yang sabar dan ikhlas.

Ya Rabb jangan biarkan kami semakin jauh darimu ya Rabb. Jangan biarkan kami menjadi orang yang merasa paling shalih atau justru menjadi orang yang mengumpat takdirMu sementara Engkau tengah menguji seberapa jauh mata hati kami melihat tanda-tandaMu.

Saudaraku,  mengapa Rasulullah bersabda dengan terompah sahabat yang mulia. Kenapa harus terompah bukan sepatu atau yang lainnya? 
Pernahkan kita mengambil sebuah pesan dalam keseharian kita, manakah yang lebih menunjukkan makna kesederhanaan antara seseorang yang mengenakan sandal / terompah dengan orang yang mengenakan sepatu? 

Dalam fikiran kita pun tertanam jika seseorang yang menggunakan pakaian yang elok dengan kemeja,  dasi,  jas, celana dasar yang halus lebih pantas mengenakan sepatu dan bekerja di kantor yang mewah,  bahkan dalam frame fikiran kita orang semacam itu pastilah orang kaya. 

Berbeda ketika kita melihat seseorang yang mengenakan sandal,  apalagi jika pakaiannya biasa-biasa saja, dimata kita orang semacam ini akan terlihat biasa saja dan tak ada yang istimewa. Justru kita akan terkagum-kagum jika ternyata setelah kita ketahui bahwa orang yang kita anggap biasa ini ternyata adalah seorang yang kaya,  mungkin ia adalah seorang dermawan yang berpenampilah rakyat jelata. Tanpa sadar mungkin kita akan mulai memuji-muji kesederhanaannya,  akhlaknya dan lain-lainnya.

Saudaraku,  begitu juga dengan Allah Azza wa Jalla,  ia tidak menilai seorang hamba dari penampilannya saja, karena penampilah dihadapan manusia bisa menipu sedang tak ada yang mampu menipu Allah. Sudahkah kita mendengar kisah sahabat yang tak dikenal penduduk dunia tapi seluruh penghuni langit mengenalnya.  Sahabat yang tak dicari didunia tapi Arsy bergetar karena kedatangan ruhnya.
Mungkin mirip dengan diri kita yang menganggapnya biasa saja dan setelah tau kelebihannya mulai memuji-mujinya, Maha Suci Allah ialah tempat segala Puji.

Saudaraku, sudahkan engkau mulai memahami apa pesan yang Allah sisipkan dalam setiap kejadian hilangnya sandal-sandal yang ada di masjid itu? Kejadian unik yang justru menjadi ciri khas dan terkadang menjadi bahan ejekan bagi orang-orang yang membeci Islam.

Saudaraku, pernahkah engkau menemukan sabda Rasulullah yang memerintahkan kita untuk bermewah-mewah ketika hendak menghadap Allah Rabb semesta alam? Sehingga kita datang dengan membawa aksesoris yang mewah pula?  Bukankah yang Rasulullah ajarkan agar kita menghadap Allah dengan pakaian terbaik yang kita miliki,  bukan yang paling mewah,  karena kadar kemampuan setiap orang berbeda-beda. Mungkin pakaian si fulan tak lebih baik dari pakaian si fulan,  tapi itulah pakaian terbaik yang ia miliki dan Allah lebih tau hal itu saudaraku apalagi dalam urusan memakai sandal.
Bukankah sandal itu melambangkan kesederhanaan?  Oleh karenanya tak semua bagian dari kaki kita tertutupi.

Semua sandal digunakan sebagai alas kaki, letaknya ada dibawah alas kaki dibawa melangkah,  dan menempel dibumi yang sama,  menandakan bahwa kita adalah makhluk yang sama, tinggal di tempat yang sama.  Jika bumi yang kita pijak dengan sandal kita ini basah,  maka basah pula sandal milik saudara kita.  Jika bumi yang kuta pijak ini becek maka tentu sama kotornya alas sandal kita dan mereka,  sebagus dan semahal apapun sandal yang kita kenakan.  Allah ingin agar kita belajar memahami bahwa kita semua datang untuk menghadap Allah,  bertakbir,  rukuk dan sujud dihadapanNya sebagai hamba yang sama. bukankah kita tidak mengenakan sandal kita kedalam masjid untuk bersujud padaNya.

Semua dari kita melepaskan alas kaki kita meninggalkannya diluar sana sebagai simbol bahwa kita bukanlah siapa-siapa dihadapanNya. Bukan sandal yang terbaik saudaraku,  tapi pakaian terbaik yang Rasulullah perintahkan ketika menghadap Allah. Pakaian yang terbaik bukan yang mewah saudaraku,  karena itu kita sering mendengar bahwa sahabat ada yang hanya memiliki satu helai pakaian, ada yang tambalan pakaiannya banyak,  bahkan ada pula yang harus bergantian dengan keluarganya.

Lalu apa istimewanya sampai-sampai Rasulullah menyabdakan tentang terompah sahabatnya yang ada di surga,  sementara yang ia perintahkan bukan mengenakan sandal / terompah terbaik tapi pakaian terbaik? karena sandal kitalah yang membuat diri kita tetap terjaga suci di sepanjang perjalanan,  karena sandal kita pun akan bersakasi bahwa ia yang mengantarkan kita menuju rumah Allah untuk bersujud, beristighfar dan memohon ampunan meskipun ia sendiri tak dibawa masuk. Karena ia rela terkena najis tertusuk duri tergores kasarnya jalanan,  asal diri kita selamat dan dalam keadaan suci menghadap Allah, bukankah Allah itu Maha Suci.

Saudaraku... Segala sesuatu yang Allah ciptakan akan menjadi saksi untuk diri kita di akhirat kelak,  seberapa banyak kau bawa sandalmu untuk pergi menuju rumah Allah,  kelak ia akan menjadi saksi bagimu,  kelak ia akan menjadi terompah terbaikmu di syurga.

Cobalah lihat orang-orang tua yang datang kemasjid untuk menunaikan panggilan Allah,  mereka membawa sandal yang sudah lusuh,  jelek,  tipis karena selalu ia pakai dan mungkin tak layak dalam pandangan matamu.  Tapi perhatikanlah,  bukankah mereka tetap tersenyum? Bukankah mereka tetap terlihat bersahaja? Bukankah sandalnya tak membuat mata orang lain iri ingin memiliki?
Lalu bagaimana dengan mu saudaraku?

SubhanAllah,  semoga Allah membing setiap langkah kita. Menjadikan terompah kita seperti Bilal bin Rabbah... Amiin

Maaf jika ada tulisan yang kurang berkenan, jika ada kesalahan itu datangnya dari diri saya semata.

Andi Septiawan
085609333419



visit to link download

No comments:

Post a Comment